Kadang ketika aku melihat para pengamen, pengemis maupun pedagang asongan apalagi melihat mereka yang masih balita yang sudah mengamen / mengemis di pinggir jalan selalu terbersit dalam pikiranku, betapa beruntungnya diriku. Apapun keadaanku saat ini, aku jauh lebih beruntung daripada mereka. Tidak lupa aku mengucapkan syukur kepada Allah, atas semua rezeki yang selama ini diberikan kepadaku dan keluargaku. Aku beruntung, lahir dalam keluarga yang berkecukupan, mendapat kasih sayang dan pendidikan yang cukup untuk bekalku mengarungi hidup ini. Namun bagaimana seandainya aku dalam posisi mereka, dimana lahir dalam keluarga yang miskin, serba kekurangan, untuk makan saja susah, apalagi untuk sekolah, harus hidup di pinggir jalan, bergumul dengan kerasnya hidup di jalanan/kolong jembatan demi mendapat sesuap nasi, tidak ada tempat tinggal yang layak, astaga aku tidak mampu membayangkannya. Aku bertanya dalam hatiku,apakah ini yang namanya takdir? Garis hidupku sangat ditentukan pada detik pertama aku keluar dari rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. Apakah aku lahir dari rahim orang baik atau jahat? Orang kaya atau miskin? Orang pintar atau bodoh? Semuanya sangat ditentukan pada saat itu. Kalau aku membayangkan, mungkin tadinya setiap roh calon bayi menunggu disebuah ruang tunggu yang besar, menunggu ditunjuk oleh Allah untuk keluar dari rahim yang mana dan dalam keadaan seperti apa? Apakah dalam keadaan sehat,lengkap,normal ataukah dalam keadaan sakit, cacat atau tidak normal???
Sebenarnya apa sih itu takdir? Ada yang bilang bahwa Takdir adalah ketentuan yang telah Allah tetapkan. Bahkan jauh sebelum semua makhluk diciptakan, Allah telah menuliskan semua takdir makhluknya dari permulaan masa hingga hari akhir. Jadi yang jelas takdir itu tidak ada yang tahu kecuali hanya Allah. Lalu apa bedanya antara takdir dengan nasib? Pusing juga kan mikirinnya.
Yang pasti, Allah sendiri sebagai Penulis Takdir telah memerintahkan kita untuk berusaha dan bekerja serta berikhtiar. Karena itu menyalahkan takdir adalah dosa karena melawan perintah Allah.
Kalau bagiku yang penting kita harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengubah nasib kita sendiri. Jangan lupa diri dan harus selalu bersyukur atas semua rezeki yang diberikan oleh-Nya. Jika memang setelah sekuat tenaga kita berusaha, namun tetap gagal, yah berpikir positif aja lah, aku selalu berpikir, bahwa mungkin ini bukan rejeki ku atau mungkin Allah masih menyimpan rejekiku hingga saat aku benar-benar siap untuk menerimanya. Yang aku tahu dan yakin, bahwa setiap orang di dunia ini pasti memiliki rezekinya masing-masing, ada yang banyak maupun sedikit, tergantung cara dia mensyukuri akan rezekinya tersebut. Maksudku adalah, cobalah kita bayangkan, apabila kita punya rumah yang besar, tabungan yang banyak, mobil mewah,pokoknya kekayaan kita gak akan abis ampe tujuh turunan, tapi….. kita hanya memiliki sebelah kaki atau sebelah tangan,kalau aku sih, lebih baik aku gak punya kekayaan yang banyak daripada harus kehilangan kakiku atau tanganku.
Jadi pada intinya syukurilah akan apa yang kita miliki saat ini sambil terus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi lebih baik ,pasti Allah akan memberikan ganjaran atas setiap hal yang kita lakukan. Amin…